PROLOGUE
New York, December 28th 1999
06.45 p.m.
Sore itu tidak ada yang istimewa,
kecuali badai salju yang tak kunjung reda.
Entah sejak kapan badai salju ini
turun. Semua terjadi begitu saja. Butiran yang menumpuk di teralis jendela, di
atas lampu jalan dan traffic light, bahkan memenuhi jalan raya.
Namun hal itu tak menjadikan
kedai ini sepi pengunjung. Kedai ini ramai dikunjungi, seperti biasa.
Dan yang kulakukan saat ini
adalah berdiri di balik mesin penghitung uang, menatap pengunjung yang keluar
masuk kedai ini sambil memasang senyum ramah, dan melayani mereka saat
melakukan pembayaran. Beberapa temanku berlalu-lalang membawa nampan dengan
mug-mug berisi minuman hangat dan beberapa roti.
Sore itu tidak ada yang istimewa,
kecuali musik klasik yang mengalun lembut.
Kupikir menikmati jamuan hangat
di musim dingin seperti ini sangat sesuai dilakukan seraya mendengarkan musik
klasik.
Classical music atau oldies
memang cocok sebagai back sound dalam suasana melankolis seperti ini, di saat
kita berkumpul dengan keluarga. Saling berbagi cerita, cinta, kasih. Dengan soft
and calm melodies, mau tak mau membuat kita kembali bernostalgia.
Kembali mengenang
peristiwa-peristiwa sederhana yang telah terkubur. Mengacak ulang memori,
memutar kepingan video berharga bersama sang tercinta.
Sore itu tidak ada yang istimewa,
kecuali aroma chocolate yang menguar.
Ketika memasuki kedai ini, aroma
chocolate akan langsung menusuk indramu. Seluruh bagian dari kedai ini beraroma
chocolate lembut yang memanjakan.
Di kedai bertema chocolate ini
menawarkan berbagai jenis minuman dan jajanan dari chocolate yang disukai semua
orang. Dan di musim dingin seperti ini, banyak orang memilih makanan lembut
yang menghangatkan tubuh.
Ornamen di kedai ini penuh dengan
chocolate. Meja dan kursinya dari kayu, sementara wallpapernya woody. Aku
menyukai tempat ini. Sederhana, namun berharga.
Sore itu tidak ada yang istimewa,
kecuali seorang anak yang berulang tahun.
Suara lagu Happy Birthday
dilantunkan untuk seorang anak laki-laki berkacamata. Memang tidak meriah,
hanya merayakan di meja mereka. Namun tentu saja hal itu sangat istimewa dan
mengesankan bagi bocah itu.
Chocolate memang menyediakan kue
ulang tahun yang tentunya juga berasal dari chocolate, namun hiasan boleh di
request. Tambahan lilin juga ada, namun itu tidak memengaruhi harga. Pengunjung
biasanya memesan beberapa jam sebelum toko buka, karena alasannya kue masih
hangat.
Aku ikut tersenyum melihat anak
laki-laki itu tersenyum lebar. Bayi yang digendong ibunya bertepuk tangan
dengan lucu, membuat semua orang turut bertepuk tangan sambil tersenyum.
Sore itu tidak ada yang istimewa,
kecuali keluarga yang saling berbagi cinta.
Menghabiskan waktu dengan
orang-orang yang kita sayangi memang hal yang menyenangkan, dan itu merupakan
hal yang amat sangat kurindukan.
Sudah hampir 3 tahun aku bekerja
di tempat ini, di kedai ini. Chocolate namanya. Memang hanya satu kata, agar
orang mudah mengingat namanya. Selain itu, nuansa kedai ini memang penuh dengan
chocolate seperti yang kubilang, memberikan kesan nyaman dan hangat. Kebanyakan
pengunjung datang bersama keluarga atau pacar atau sahabat-sahabat
mereka.
Namun, tak sedikit juga yang
memilih datang sendiri, menghabiskan waktu menikmati sepi, berharap dengan
secangkir minuman hangat dapat menenangkan hati.
Sore itu tidak ada yang istimewa,
kecuali gadis di pojok ruangan.
Jauh dari pandangan orang banyak
dan asyik menghalu dengan dunianya sendiri. Sempat kudengar gadis itu memesan matcha
latte―minuman yang jarang diminati banyak orang. Kebanyakan pengunjung senang
menghidu dan menyesap Hot Chocolate atau Milk Coffee atau Coffee Mint, atau
minuman terkenal lainnya.
Gadis itu menunggu pesanannya
dalam diam. Ketika meja-meja lain dipenuhi canda tawa manis dan kehangatan
kasih, gadis itu hanya mengamati. Ia tidak tersenyum, tidak pula menekuk wajah.
Ada sarat kosong di kedua manik hitam kelamnya yang sipit.
Ketika matcha latte miliknya
datang, ia segera menghidu aroma yang menguar bersama uap panas yang membuat
pipi pucatnya merona.
Sore itu tidak ada yang istimewa,
sebelum akhirnya pandangan kita bertemu.
To be continued ..
~
<(^o^)> ~
Hello~ Vanilla here~
So, what do you think about the
prologue? This is my first published story, so, I'm sorry if it's kind of
weird, because I'm a newbie.
Please leave comment on the box
below. Thank u for reading~!
- a.sh.

0 Comments